Persiapan Pentahbisan Mgr. Benedictus Estefanus Rolly Untu, MSC




Foto Uskup Keuskupan Manado terpilih
MGR BENEDICTUS ESTEFANUS ROLLY UNTU, MSC

Informasi seputaran Pentahbisan Uskup Baru

Cover Undangan Pentahbisan Uskup Baru

Tim Sekretariat in action

TRI PRASETYA PEMUDA KATOLIK

TRI PRASETYA PEMUDA KATOLIK

 

Kami, PEMUDA KATOLIK Indonesia,

Pendukung hari-hari depan

Gereja dan Negara,

berjanji : “SENANTIASA SETIA

PADA PIMPINAN GEREJA DAN NEGARA


Kami, PEMUDA KATOLIK Indonesia,

Pendukung hari-hari depan

Gereja dan Negara,

berjanji : “TETAP BERJUANG

DEMI KEPENTINGAN GEREJA DAN NEGARA


Kami, PEMUDA KATOLIK Indonesia,

Pendukung hari-hari depan

Gereja dan Negara,

berjanji : “SELALU MENGUTAMAKAN

PERSATUAN, KEKELUARGAAN DAN TOLERANSI

12 Tanda Anda Tidak Mengikuti batin Kebenaran Anda & Cara menemukannya Lagi

"Cara orang memperlakukan orang lain adalah refleksi langsung bagaimana perasaan mereka tentang diri mereka sendiri" - Paulo Coehlo
Setiap hubungan yang kita miliki, dapat dilihat sebagai refleksi dari hubungan interpersonal diri kita sendiri kemudian menjadi acuan menetapkan bagaimana hubungan yang tepat, Sangat tergantung kepada apa yang kita tetapkan.
Dengan mempercayai diri kita sendiri, mendengarkan pikiran sendiri, perasaan dan emosi kita, kita menjadi lebih otentik dan ini memberikan kita kesempatan yang indah untuk menjadi nyaman di kulit kita sendiri. Namun, ketika kita tidak nyaman dengan siapa kita, kita memproyeksikan ke orang lain, apa yang kita tidak bisa terima dari diri kita sendiri.

12. Menghakimi "judgy".
"Hidup adalah cermin dan akan mencerminkan kembali ke pemikir apa yang dia pikir ke dalamnya"- Ernest Holmes
Ingat bahwa setiap kali Anda menyerang terhadap seseorang, apakah itu di belakang mereka atau berhadapan, Anda bertemu aspek bayangan Anda sendiri. Jadi  kata-kata itu kembali pada kita, karena apa yang Anda katakan, adalah apa yang Anda butuhkan untuk diperbaiki, diterima dan disembuhkan dalam diri Anda.
Lidah menyerang seseorang dengan komentar kasar adalah tanda pasti bahwa Anda tidak nyaman dengan penampilan Anda sendiri; Anda terlalu keras pada diri sendiri dan Anda kekurangan penerimaan diri.
Ketika kita menilai orang lain, tidak hanya kita mengedepankan aspek diri kita sendiri, secara tidak sadar kita menyakiti orang lain, berdasarkan persepsi dari dunia kita sendiri dan cara kita melihat orang lain.
11. Mencari pengakuan dari orang lain.
Kita mencari perhatian dan pengakuan orang lain ketika ada sesuatu yang hilang. Sebuah kekosongan yang perlu diisi, dan tanpa cara yang tepat dan introspeksi untuk memahami dan meminimalisir dampak buruknya, kita mencari reaksi eksternal.
Anda adalah penyebab dan reaksi. Apa yang Anda cari di dunia ini sudah dalam diri Anda, Anda sudah tahu jawabannya karena Anda mengajukan pertanyaan. Takarlah diri Anda dengan standar Anda sendiri dan gunakan standart yang tinggi karena Anda layak untuk itu.
10. Mementingkan Orang Lain
Melakukan sesuatu untuk orang lain dapat membawa sukacita dan kepuasan, tapi ada keegoisan besar disana yang kita sendiri tidak mampu untuk mengabaikannya. Ketika kita terlalu memanjakan memberikan waktu, energi dan materi, kita mungkin berpikir bahwa tindakan itu tidak ada salahnya, tetapi waspadalah, seperti mobil kita tidak bisa berjalan tanpa bahan bakar dan kita semua perlu isi ulang.
9. Berulang-ulang melakukan hal-hal yang tidak kita sukai.
Apakah itu pekerjaan, gaya hidup atau hubungan,terus melakukan sesuatu  dalam siklus energik yang sama yang tidak anda sukai, tidak hanya tidak sehat, namun dapat menyebabkan kondisi mental dan emosional seperti kecemasan dan depresi.
Jika Anda menemukan diri Anda merasa seperti Anda terjebak pada roda tikus, Anda sudah tahu waktunya untuk turun.
Itu tidak akan memberika apapun yang baik sekarang atau nanti, jadi percaya bahwa sesuatu yang lebih baik menunggu Anda di sudut berikutnya, dan itu pasti.
8. Marah.
"Kemarahan adalah tanda bahwa ada sesuatu perlu diubah" - Mark Epstein
Apa itu marah? darimana asalnya? dan mengapa ia memiliki kemampuan untuk merebus darah kita begitu banyak!
Bentuk Ego, kemarahan dapat datang mendekat untuk berbagai alasan. Kemarahan adalah tanda bahwa kita tidak puas dengan situasi Anda saat ini, apakah itu secara emosional atau psikologis. Kebutuhan dasar tidak terpenuhi dan ego "AKU" membiarkan Anda tahu keras dan jelas bahwa Anda perlu untuk melayani diri sendiri sedikit lebih baik lagi.
7. Membiarkan orang lain terlalu banyak menilai kehidupan kita
"Dapatkah Anda ingat siapa dirimu, sebelum dunia memberitahu anda harus menjadi manusia seperti apa?" -Danielle Laporte
Apakah orang tua, teman-teman, rekan kerja atau atasan, kita selalu mendapatkan nasihat, (apakah kita meminta untuk itu atau tidak adalah cerita yang berbeda.) Intinya adalah untuk menghibur pikiran tanpa menerima itu. Merasa untuk diri sendiri jika apa yang Anda diberitahu bergema dengan Anda, Anda yang sesungguhnya, anak yang memiliki harapan dan impian untuk diri sendiri. Jadilah sadar apa yang Anda biarkan masuk ke dalam pengambilan keputusan Anda, ini adalah hidup Anda dan Anda adalah satu-satunya menghidupi itu.
6. Dusta Putih. (You tell white lies.)
Jangan pernah menurunkan diri sendiri untuk mencoba mengesankan orang lain. Jadi diri sendiri, asli, Anda sudah cukup denga menjadi diri sendiri. Siapa pun yang tidak bisa menghormati kebenaran, tidak layak waktu Anda.
5. Menyembunyikan emosi.
Sejak saya masih muda, saya selalu melihat perasaan dan emosi secara terpisah. Saya mengerti bahwa emosi saya didasarkan pada pengalaman di mana saya terluka atau dirugikan,membingungkan dan sulit dalam hidup saya. Sedangkan perasaanku jauh lebih dalam, ia adalah pengetauan terdalam yang jelas mengetahui  aku sebenarnya, apa yang seharusnya saya lakukan dan sebagai tonggak cahaya dalam kegelapaan. Sering kali, saya melihat orang tidak dapat memilih satu dari antara dua dan memilih untuk menutupi segala sesuatu yang mereka rasakan karena ketidakmampuan untuk memahami, atau takut apa yang mereka mungkin temukan terkubur dan tersembunyi di lemari tersembunyi dari pikiran.
Dalam upaya untuk meredam emosi, kita siram naluri tinggi  (intuisi) dengan menggunakan alkohol, obat-obatan, rokok, dan hal lain yang dapat digunakan sebagai pengalih perhatian, menjauhkan kita dari berurusan langsung dengan apa yang ada di tangan kita. Dan tragedi terbesar dari masalah ini, adalah  kita memilih untuk melupakan yang buruk, kita juga lupa baik.
4. Anda tidak dapat mengambil yang buruk dengan baik.
Anda tidak dapat menambahkan lagi air ke cangkir Anda jika sudah penuh. Ketika kita tidak dapat melepaskan pengalaman masa lalu , dengan berusaha menyelesaikannya secara emosional, psikologis dan spiritual, kita merasa seperti kita tidak bisa menerima hal buruk lagi, atau kita berpikir untuk diri kita sendiri, "kalau ada sesuatu yang terjadi aku tidak bisa menerimanya".Tentu, kita mencari aspek yang menyenangkan dalam  kehidupan dan meniadakan semua tanggung jawabnya. Cukup sering, ini dikenal sebagai krisis paruh baya. Semua hal yang kita hindari begitu lama selalu ada dan bekerja dengan cara mereka didepan kita. Setiap kali kita siap untuk berhenti berjalan dan menyerah kepada rasa sakit dan penderitaan kita sendiri, kita dapat melepaskan cengkeramannya dan kita siap untuk mengambil yang lain lagi. Kosongkan cangkir Anda."Itu adalah pernyataan khidmat saya bahwa seluruh tujuan penderitaan adalah untuk membangkitkan jiwa"

3. Keras pada diri sendiri.
Ini adalah keyakinan pribadi saya bahwa penerimaan diri dan kerendahan hati  jatuh bergandengan tangan. Meskipun ada banyak orang yang percaya bahwa kita semua membuat kesalahan, saya bukan salah satu dari mereka. Artinya, kita sempurna sama seperti kita.

Hidup adalah tentang belajar dan berkembang, tidak menghitung-hitung karma kita, dan ketika kita bisa memaafkan diri sendiri untuk hal-hal yang kita tidak tahu itu, yang kita kenal sekarang, kita naik ke cinta dan penerimaan diri dan melepaskan beban.
Ini adalah beban yang sudah terlalu lama kita bawa, buang itu.
2. Anda tidak percaya intuisi Anda.
Kita semua memiliki naluri. Sebuah kilatan wawasan atau suara batin yang memandu proses pengambilan keputusan, tapi itu adalah pilihan, apakah kita mau atau tidak untuk mendengarkan. Buatlah salah satu yang melayani Anda duluan.
1. Anda tidak mengikuti kata hati Anda.
jantung Anda tahu jauh sebelum pikiran sadar Anda memiliki waktu untuk memproses perasaan Anda. Anda akan selalu mendapatkan dorongan lembut, sebuah pengetahuan internal apakah Anda harus atau tidak harus  untuk terlibat dalam setiap situasi kehidupan. Namun, itu adalah hal umum bahwa dorongan ini diabaikan; biasanya dikubur oleh pemicu emosional otak, awan pikiran, dan mengarahkan Anda tentunya.
Itulah sebabnya kita tidak harus membuat keputusan tergesa-gesa. Selalu berikan waktu pada diri Anda untuk memisahkan perasaan atau pengetahuan internal dari emosi Anda dan setelah Anda memiliki, percayalah. Percayai naluri anda dan percayalah bahwa dalam h
idup dan cinta, selalu ada jalan.
_____________________
by LJ Vanier, Team Spirit!
Alih Bahasa : Martino Rengkuan 
source : 
http://thespiritscience.net/2016/03/10/12-signs-you-arent-following-your-inner-truth-how-to-find-it-again/

Jejak Yohanes XXIII di Nusantara

Vatikan menyambut Presiden RI pertama Soekarno pada Kamis pagi, 14 Mei 1959. Ia bersua dan berbincang dengan Paus Yohanes XXIII di ruang Clement VIII Pax V. Sebelumnya, Soekarno juga pernah berkunjung ke Vatikan menemui Paus Pius XII, pada 13 Juni 1956. Hubungan Paus Yohanes XXIII dengan Indonesia tak sampai di situ. Melalui Dekrit Quod Christus Adorandus, 3 Januari 1961, Paus Yohanes XXIII meresmikan pendirian Hirarki Episkopal Gereja Katolik di Indonesia. Peresmian Hirarki Episkopal ini merupakan pengakuan Takhta Suci terhadap Gereja Katolik Indonesia, karena telah mampu berdikari.

Sejak saat itu, 20 vikariat apostolik dan tujuh prefektur apostolik ditingkat menjadi keuskupan yang mempunyai wewenang penuh mengatur penggembalaan di wilayahnya, ke dalam enam provinsi gerejani; Keuskupan Agung Medan, Jakarta, Semarang, Pontianak, Makassar, dan Ende. Pada kemudian hari, dimekarkan menjadi Keuskupan Agung Merauke (1966), Kupang (1989), Palembang (2003), dan Samarinda (2004). Nama asli dari Paus Yohanes XXIII, Angelo Giuseppe Roncalli juga diabadikan sebagai nama rumah retret di Salatiga, Jawa Tengah. Rumah Retret Roncalli ini berdiri pada 1968. Rumah retret ini dirintis Br Carlo Hillenaar FIC dan Br Joachim van der Linden FIC. Selain itu, nama paus ini juga diabadikan oleh Seminari Tinggi Interdiosesan “Beato Giovanni XXIII” Malang, Jawa Timur. Sejak 15 Agustus 1988, seminari tinggi ini menjadi interdiosesan, artinya menjadi tanggungjawab beberapa keuskupan: Surabaya, Denpasar dan Malang. Selain tiga keuskupan ini, beberapa keuskupan juga mengirim para calon imamnya untuk dididik di seminari ini. (Y. Prayogo)